Analek Konfusius, penguasa tanpa mahkota
Diterjemahkan dari bahasa Prancis • bahasa Indonesia (indonésien)
« Tanpa kunci fundamental ini [Analek], tidak mungkin seseorang memiliki akses kepada peradaban Tiongkok. Dan barangsiapa mengabaikan peradaban ini tidak akan pernah dapat mencapai lebih daripada pemahaman parsial tentang pengalaman manusia. »
Confucius. Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Pierre Ryckmans, kata pengantar oleh René Étiemble. Paris : Gallimard, koleksi « Connaissance de l’Orient », 1987.
Sejarah pemikiran manusia menawarkan sedikit contoh pengaruh yang seluas dan setahan lama itu sebagaimana pengaruh Sang Guru Terhormat Kong atau Kongfuzi1Bentuk-bentuk yang ditolak :
Cong fou tsëe.
Krong-fou-tsé.
K’ong-fou-tseu.
Kong-fou-tze.
Khoung-fu-tzée.
Khoung-fou-dze.
Cung-fou-tsée.
Khung-fu-dsü.
Kung-fu-tsu.
Kung fu-tzu.
Cun-fu zu.
Cum-fu-çu.. Jika kebesarannya harus diukur dari jejak mendalam yang ia torehkan pada semua bangsa Asia Timur, maka dapatlah ia dijuluki « guru terbesar […] yang pernah dihasilkan oleh segala zaman ». Dalam Analek-nya (Lunyu)2Bentuk-bentuk yang ditolak :
Analectes.
Dialogues.
Les Annales.
Les Propos.
Les Entretiens philosophiques.
Les Discussions philosophiques.
Le Livre des entretiens ou des discours moraux.
Discours et paroles.
Aphorismes.
Conversations avec ses disciples.
Liber sententiarum (Kitab Sentensi).
Ratiocinantium sermones (Perbincangan Para Rasionalis).
Dissertæ sententiæ.
Lén-yù.
Luen yu.
Louen yu.
Loung yu.
Lien-yu.
Liun iu.
Liun-ju.
Loun-yu.
Loun iu.
Lún-iù.
Jangan dicampuradukkan dengan :
Les Entretiens familiers de Confucius (Perbincangan akrab Konfusius) (Kongzi jiayu) yang membentuk semacam lampiran heterodoks terhadap kumpulan Analek. itulah cinta kasihnya yang berkobar terhadap kemanusiaan dan moralnya yang luhur, yang digali dari sumber-sumber akal sehat, memancar dengan gemilang ; di sanalah terwujud kegigihannya tanpa henti untuk mengembalikan kepada kodrat manusia cahaya sulung yang diterima dari Langit itu, namun yang telah dikaburkan oleh kegelapan ketidaktahuan. Maka tidaklah mengherankan bila para bapak Jesuit, yang memperkenalkan dan memujanya di Eropa dengan nama Latinnya Confucius, merasakan antusiasme yang setara dengan antusiasme orang-orang Tionghoa. Mereka melihat dalam Analek-nya mutiara-mutiara Tiongkok atau sesuatu yang bahkan lebih berharga lagi, sebab pretiosior est cunctis opibus [sapientia] (kebijaksanaan lebih berharga daripada segala mutiara)3Ams 3,15 (terj. Alkitab : terjemahan resmi liturgis).. Dan mereka menyimpulkan bahwa « ajaran-ajaran ini bukan hanya baik bagi orang-orang Tiongkok, melainkan […] sedikit sekali orang Prancis yang tidak akan menganggap dirinya […] sangat beruntung jika mereka dapat mempraktikkannya ». Voltaire sendiri, yang terpesona, menggantungkan potret sang bijak Tionghoa di ruang kerjanya, di bawah potret itu ia menuliskan keempat bait berikut :
« Penafsir tunggal akal sehat yang menyelamatkan,
Tanpa menyilaukan dunia, mencerahkan budi,
Ia hanya berkata sebagai orang bijak dan tak pernah sebagai nabi ;
Namun orang percaya kepadanya, bahkan di negerinya sendiri. »Voltaire. « De la Chine » (« Tentang Tiongkok »). Œuvres complètes de Voltaire (Karya Lengkap Voltaire), vol. 40, Questions sur l’Encyclopédie, par des amateurs (Pertanyaan-pertanyaan tentang Ensiklopedia, oleh para amatir), IV, César-Égalité (Kaisar-Kesetaraan). Oxford : Voltaire Foundation, 2009.
Kenyataan Akal yang Lurus
Ditilik dari sudut pandang ganda moral dan politik, ajaran Konfusius dapat dibandingkan dengan ajaran Sokrates yang diwartakan pada masa yang kurang lebih sama. « Sahabat-sahabat akal budi, musuh-musuh keriuhan » (Voltaire), Konfusius dan Sokrates telah menyelimuti kebijaksanaan purba dengan kelembutan itu, dengan keterang-jelasan itu, dengan ketenangan itu yang mampu menyentuh bahkan budi-budi yang paling kasar sekalipun. Mungkin, tak pernah budi manusia diwakili secara lebih bermartabat daripada oleh kedua orang ini. Unggul dalam filsafat mereka, mereka tak kalah unggul dalam penilaian mereka. Demikianlah, mereka senantiasa tahu sampai di mana harus melangkah dan di mana harus berhenti. Dan seandainya, kadang-kadang, mereka menyimpang dari jalan yang lurus, akal sehat mereka akan mengembalikan mereka ke sana, dalam hal ini mereka memiliki keunggulan yang cukup besar atas banyak filsuf zaman kita yang memiliki penalaran-penalaran begitu berbelit, begitu keliru, dengan kehalusan-kehalusan yang begitu mengerikan, sehingga mereka sulit memahami diri mereka sendiri. « Sang Guru berkata : “Tiada seorang pun akan berpikir untuk keluar selain melalui pintu. Mengapa orang-orang mencari-cari untuk berjalan di luar Jalan ?” » (VI.17)
Oleh karena itu, kita akan menyayangkan pendapat Hegel yang, karena tidak menemukan dalam Analek satu pun dari penyimpangan-penyimpangan yang ia sebut filsafat itu, memutuskan dengan satu kata yang mengerikan : « akan lebih baik bagi reputasi Konfusius seandainya karyanya tidak diterjemahkan »4Hegel, Georg Wilhelm Friedrich. Leçons sur l’histoire de la philosophie (Kuliah-kuliah tentang Sejarah Filsafat), terj. dari bahasa Jerman oleh Jean Gibelin. Paris : Gallimard, 1954.. Pandangan yang sepenuhnya Jermanik ini terasa makin aneh mengingat Jerman memiliki, dengan Percakapan-percakapan Goethe, sebuah buku yang sangat serupa baik dalam keindahannya yang tenang maupun dalam kehadiran hidup seorang Guru. Jangan sampai kita salah memahaminya ! Menghakimi Konfusius tidak layak diterjemahkan berarti menolak akal budi itu sendiri — « kebenaran batin yang ada di dalam jiwa semua manusia, dan yang senantiasa dikonsultasikan oleh filsuf kita [untuk] memimpin segala perkataannya » (Jean de Labrune).
Jalan Sang Bijak
Seperti banyak « guru » umat manusia lainnya, seperti Sang Buddha di India, Zarathustra di Persia, Konfusius bukanlah seorang penulis, melainkan seorang Guru yang menyerahkan kepada para muridnya tugas mencatat ajaran-ajarannya. Lagi pula, asing terhadap pidato-pidato panjang dan kefasihan yang tidak pada tempatnya, ia lebih menyukai sikap yang tekun, « seperti sikap seorang pemusik yang membungkuk di atas alat musiknya untuk menarik darinya melodi-melodi yang paling indah »5Menurut perumpamaan yang cemerlang dari Antoine-Joseph Assaf.. Kadang-kadang ia bahkan mengeluh : « Aku ingin tidak berkata-kata lagi ». Kepada para murid yang tergugah oleh keheningannya, ia menjawab dengan keagungan yang nyaris kosmik : « Apakah Langit berbicara ? Namun keempat musim mengikuti arusnya, namun seratus makhluk dilahirkan. Apakah Langit berbicara ? » (XVII.19)
Ia menyatakan dengan rendah hati kepada siapa pun yang mau mendengar : « Aku meneruskan, aku tidak mencipta apa pun […] dan aku mencintai Zaman Kuno » (VII.1). Peran sebagai penerus ritus-ritus (li), pengetahuan (zhi), rasa kemanusiaan (ren) itu, ia jalankan dengan pengabdian, dengan martabat ; tidak tanpa melalui keputusasaan yang dalam, karena ia tahu betapa « misinya berat, dan jalannya panjang » (VIII.7). Namun demikian, ia menyemangati diri dengan pikiran bahwa ia menjalankan suatu amanat langit yang sejati : « Raja Wen telah wafat. Kini, bukankah akulah yang dipercayakan dengan titipan peradaban ? Seandainya Langit telah bersumpah untuk menghancurkannya, mengapa Ia akan mempercayakannya kepada seorang fana seperti aku ? Dan seandainya Langit telah memutuskan untuk memelihara titipan ini, apa yang mesti kutakutkan dari orang-orang Kuang ? » (IX.5)
Kekaisaran Kebajikan
Sebuah kata yang sering muncul dalam Analek ialah « manusia budiman » (junzi), yang semula menunjukkan seorang priyayi yang lahir dari ras dan keluarga bangsawan, tetapi yang diberi makna baru oleh Konfusius dengan menggantikan kebangsawanan darah dengan kebangsawanan hati. Manusia berkualitas tidak lagi didefinisikan oleh kelahiran yang ia terima dari tangan kebetulan, melainkan oleh keluhuran moral dan kepekaan yang ia peroleh berkat pelajaran6Seperti diingatkan oleh Cyrille Javary, Prancis akan menunggu dua puluh tiga abad setelah Konfusius untuk melihat Figaro, pelayan kamar sang Comte, menuntut perasaan-perasaan kesetaraan dan pembalasan terhadap hak-hak istimewa tuannya : « Tuan Comte […]. Karena Tuan adalah seorang bangsawan besar, Tuan menganggap diri Tuan seorang jenius besar !… Kebangsawanan, kekayaan, pangkat, kedudukan ; semuanya itu membuat orang begitu angkuh ! Apa yang telah Tuan lakukan untuk begitu banyak harta itu ? Tuan telah bersusah payah dilahirkan, dan tidak lebih dari itu. Selebihnya, manusia yang cukup biasa-biasa saja ! Sementara aku », dan seterusnya.. Serupa dengan « Bintang Kutub » (II.1), tak berubah dan sentral, ia tidak peduli akan tidak dikenal ; sebaliknya ia berupaya melakukan sesuatu yang patut dikenal : « Sang Guru berkata : “Bukanlah suatu kemalangan tidak dikenal oleh orang-orang, melainkan suatu kemalangan tidak mengenal mereka” » (I.16). Di manakah dapat ditemukan maksim yang lebih indah, ketidakpedulian yang lebih besar terhadap kemasyhuran dan keberhasilan ? Apa pentingnya, pada akhirnya, bahwa Konfusius tetap, sepanjang hidupnya, seorang penguasa tanpa mahkota ? Ia telah membangun sebuah Kekaisaran yang batas-batasnya yang tak kasatmata itu terentang hingga batas-batas kemanusiaan.
Untuk pendalaman lebih lanjut
Seputar Analek Konfusius

Kutipan
« 子曰:「不知命,無以爲君子也;不知禮,無以立也;不知言,無以知人也。」 »
論語 di Wikisource 中文, [daring], diakses 15 April 2026.
« Konfusius berkata : “Siapa yang tidak mengenal takdir tidak dapat hidup sebagai manusia budiman. Siapa yang tidak mengenal ritus tidak tahu bagaimana membawa diri. Siapa yang tidak mengenal makna kata-kata tidak dapat mengenal manusia”. »
Confucius. Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Pierre Ryckmans, kata pengantar oleh René Étiemble. Paris : Gallimard, koleksi « Connaissance de l’Orient », 1987.
« Sang Guru berkata : “Siapa yang tidak mengenal bagiannya tak akan bisa menjadi orang yang baik ; siapa yang tidak mengenal ritus-ritus tak akan bisa memegang kedudukannya ; siapa yang tidak mengenal makna kata-kata tak akan bisa menilai manusia”. »
Confucius. Les Entretiens de Confucius et de ses disciples (Analek Konfusius dan murid-muridnya), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Jean Levi. Paris : A. Michel, koleksi « Spiritualités vivantes », 2016 ; cet. ulang dengan judul Entretiens (Analek), Paris : Les Belles Lettres, 2019.
« Sang Guru berkata : “Siapa yang tidak mengenali titah langit tak akan bisa menjadi orang yang baik. Siapa yang tidak memiliki ritus-ritus tak akan bisa menegaskan dirinya. Siapa yang tidak mengenal nilai kata-kata tak akan bisa mengenal manusia”. »
Confucius. Les Entretiens (Analek), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Anne Cheng. Paris : Éditions du Seuil, koleksi « Points. Sagesses », 1981.
« Konfusius berkata : “Tanpa pengetahuan tentang takdir, seseorang tak akan bisa menjadi manusia yang berkualitas. Tanpa pengetahuan tentang sopan santun, seseorang tak akan bisa bertahan di dalamnya. Tanpa pengetahuan tentang makna kata-kata, seseorang tak akan bisa memahami manusia”. »
Confucius. Les Entretiens de Confucius et de ses disciples (Analek Konfusius dan murid-muridnya), terj. dari bahasa Tionghoa oleh André Lévy. Paris : Flammarion, koleksi « GF », 1994.
« Konfusius berkata : “Jika seseorang tidak mengenal takdir, tak ada yang memungkinkannya menjadi orang yang baik. Jika seseorang tidak mengenal ritus-ritus, tak ada yang memungkinkannya bertahan dalam masyarakat. Jika seseorang tidak mengenal makna kata-kata, tak ada yang memungkinkannya mengenal manusia !” »
Philosophes confucianistes (Para filsuf Konfusian), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Charles Le Blanc dan Rémi Mathieu. Paris : Gallimard, koleksi « Bibliothèque de la Pléiade », 2009.
« Sang filsuf berkata : “Jika seseorang tidak merasa dirinya diberi tugas untuk memenuhi suatu misi, suatu amanat, ia tidak dapat dianggap sebagai manusia unggul.
Jika seseorang tidak mengenal ritus-ritus atau hukum-hukum yang mengatur hubungan sosial, ia tidak memiliki apa pun untuk memantapkan perilakunya.
Jika seseorang tidak mengenal nilai kata-kata manusia, ia tidak mengenal mereka sendiri”. »
Confucius dan Mencius. Les Quatre Livres de philosophie morale et politique de la Chine (Empat Kitab Filsafat Moral dan Politik Tiongkok), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Guillaume Pauthier. Paris : Charpentier, 1841.
« Sang Guru : “Siapa yang tidak mengenal titah tak akan bisa menjadi orang mulia. Siapa yang tidak mengenal ritus-ritus tak akan bisa membawa diri. Siapa yang tidak mengenal kata-kata tak akan bisa mengenal manusia”. »
Confucius. Le Livre de la sagesse de Confucius (Kitab Kebijaksanaan Konfusius), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Eulalie Steens. Monaco ; Paris : Éditions du Rocher, koleksi « Les Grands Textes spirituels », 1996.
« Sang Guru berkata : “Siapa yang tidak mengenal kehendak Langit (hukum alam) tak akan pernah menjadi seorang bijak. Siapa yang tidak mengenal aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan tak akan konsisten dalam perilakunya. Siapa yang tidak dapat membedakan yang benar dari yang salah dalam ucapan-ucapan manusia tidak dapat mengenal manusia”. »
Confucius dan Mencius. Les Quatre Livres (Empat Kitab), terj. dari bahasa Tionghoa ke dalam bahasa Prancis dan Latin oleh Séraphin Couvreur. Hejian : Percetakan Misi Katolik, 1895.
« Magister ait : “Qui non cognoscit Cæli mandata, non habet quo fiat sapiens vir. Qui non novit ritus, non habet quo consistat, id est, non habet certam legem qua constanter se dirigat. Qui nescit discernere (examinare et æstimare) hominum dicta, non habet quo noscat homines”. »
Confucius dan Mencius. Les Quatre Livres (Empat Kitab), terj. dari bahasa Tionghoa ke dalam bahasa Prancis dan Latin oleh Séraphin Couvreur. Hejian : Percetakan Misi Katolik, 1895.
« Sang Guru berkata : “Siapa yang tidak mengenal titah langit tak akan bisa menjadi manusia terhormat. Siapa yang tidak mengenal aturan-aturan dan kebiasaan-kebiasaan tak akan bisa menegakkan diri. Siapa yang tidak mengenal makna ucapan-ucapan tak dapat mengenal manusia”. »
Confucius. Entretiens du Maître avec ses disciples (Perbincangan Sang Guru dengan murid-muridnya), terj. dari bahasa Tionghoa oleh Séraphin Couvreur, revisi terj. dan kata penutup oleh Muriel Baryosher-Chemouny. Paris : Éd. Mille et une nuits, koleksi « Mille et une nuits », 1997 ; cet. ulang dengan judul Paroles de Confucius, Entretiens (Sabda Konfusius, Analek), Paris : Hugo poche, koleksi « Hugo poche : sagesses », 2023.
« Confucii effatum : “Nec sapientiam apprehendere, qui Cæli legem ; nec in virtute stare, qui rituum honestatem ; nec homines potest dignoscere, qui verborum artem ignorat”. »
Confucius dan Mencius. Sinensis imperii libri classici sex, terj. dari bahasa Tionghoa ke dalam bahasa Latin oleh François Noël. Praha : per J. J. Kamenicky, 1711.
« Konfusius berkata : “Seseorang tak akan mencapai kebijaksanaan jika ia tidak mengenal hukum langit, pun ia tak akan kokoh dalam kebajikan jika ia tidak tahu ritus-ritus kesopanan, pun ia tak akan dapat membedakan manusia jika ia tidak tahu seni berbicara”. »
Confucius dan Mencius. Les Livres classiques de l’Empire de la Chine (Kitab-kitab Klasik Kekaisaran Tiongkok), terj. tidak langsung dari bahasa Latin oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terj. François Noël. Paris : de Bure ; Barrois aîné et Barrois jeune, 1784.
« Confucius aiebat : “Qui non s[c]it, adeoque nec credit dari Cœli mandatum et Providentiam, id est, qui non intelligit et credit prospera et adversa, vitam et mortem, etc. a Cœli nutu consilioque pendere (vel, ut exponunt alii, qui non cognoscit lumen rationis cœlitus inditum esse mortalibus, ad quod vitæ suæ rationes omnes componat, et quæ prava sunt, fugiat, quæ recta, prosequatur), vir hujusmodi profecto non habebit quo evadat probus ac sapiens ; quin imo multa committet homine indigna, dum quæ illicita sunt, vel supra vires suas, consectabitur, vel iis malis, quæ frustra conabitur effugere, succumbet.
Quisquis ignorat decorum cujusque rei et modum, necnon ritus officiaque civilia, quæ societatis humanæ vincula quædam sunt, ac proprium cujusque hominis decus et firmamentum, non habebit is quo erigatur aut evadat vir gravis et constans, et sibi aliisque utilis ; labetur enim assidue, fluctuabit incertus, et ipsius quoque virtutis, si quam forte adeptus est, jacturam aliquando faciet.
Lingua cordis index est ; nec raro quidquid in toto latet homine, brevis ejusdem prodit oratio. Quocirca quisquis non intelligit sermones hominum, sic ut apte discernat quam recte, quam perperam quid dicatur, non habebit quo perspectos habeat ipsos homines : errores illorum scilicet, indolem, consilia, facultates.
Porro quisquis hæc tria — Cœli, inquam, providentiam, rerum modum, ipsos denique homines — probe cognoverit, itaque vixerit, ut huic cognitioni vita moribusque respondeat, is omnino dici poterit partes omnes rari sapientis, et qui longe supra vulgus emineat, explevisse”. »
Confucius. Confucius Sinarum philosophus, sive Scientia sinensis latine exposita, terj. dari bahasa Tionghoa ke dalam bahasa Latin oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet. Paris : D. Horthemels, 1687.
« Barangsiapa tidak mengenal titah-titah Langit dan Penyelenggaraan, barangsiapa tidak percaya bahwa kemakmuran dan kemalangan, hidup dan mati, dsb. bergantung pada kehendak dan nasihat Langit, dan yang tidak mengakui bahwa cahaya akal adalah karunia yang diberikan Langit kepada manusia-manusia fana, dan kepada itulah mesti disesuaikan segala gerak hidup kita, sebagai aturan tentang yang buruk dan yang baik, tentang apa yang harus dihindari dan apa yang harus dipeluk ; pasti sajalah seorang manusia semacam itu tak akan pernah dapat menjadi orang yang baik dan bijak, jauh dari itu, ia pasti akan melakukan banyak hal yang tidak pantas bagi seorang manusia, ia akan terdorong pada hal-hal yang terlarang atau di atas kemampuannya, dan ia akan tunduk kepada keburukan-keburukan yang sia-sia ia coba hindari.
Ia yang tidak mengenal kepantasan dan cara tiap hal, adat istiadat dan kewajiban-kewajiban timbal balik yang laksana pengikat masyarakat manusia dan hiasan khusus setiap orang ; ia tak akan pernah terangkat pada apa pun, dan ia tak akan sampai menjadi seorang yang penting, berwibawa, teguh dan berguna bagi kaumnya dan bagi orang lain ; melainkan ia akan terus-menerus jatuh, ia akan terombang-ambing dalam ketidakpastian abadi, dan meskipun ia telah memperoleh suatu kebajikan, pada akhirnya suatu hari ia akan kehilangannya.
Lidah adalah tanda atau petunjuk hati, dan sering sekali sebuah kata kecil yang terlepas menyingkapkan segala yang ada dalam pikiran seorang manusia ; sebab itulah barangsiapa tidak memahami ucapan-ucapan manusia, sedemikian sehingga ia tidak membedakan secara tepat sejauh mana suatu hal akan dikatakan dengan baik atau buruk pada tempatnya, ia tak akan mampu mengenal kedalaman dan batin manusia, kekeliruan-kekeliruan mereka, pembawaan mereka, rencana-rencana mereka, dan sampai di mana terbentang atau tidak terbentang kapasitas mereka.
Nah, barangsiapa mengenal dengan baik ketiga hal ini — penyelenggaraan Langit, cara khusus segala hal, batin manusia, dan yang memimpin dirinya sedemikian rupa sehingga hidup dan akhlaknya sesuai dengan pengetahuan itu, dapat dikatakan secara mutlak bahwa ia telah memenuhi segala bagian dari manusia langka, bijak dan jauh di atas yang biasa. »
Confucius. Confucius, ou La Science des princes contenant les principes de la religion, de la morale particulière, du gouvernement politique des anciens empereurs et magistrats de la Chine (Konfusius, atau Ilmu Para Pangeran yang memuat prinsip-prinsip agama, moral partikular, pemerintahan politik kaisar-kaisar dan magistrat-magistrat kuno Tiongkok), manuskrip no 2331, terj. tidak langsung dari bahasa Latin oleh François Bernier, berdasarkan terj. Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet. Paris, Perpustakaan Arsenal, 1687 ; cet. ulang (kata pengantar oleh Sylvie Taussig, catatan sinologis oleh Thierry Meynard), Paris : Le Félin, koleksi « Les Marches du temps », 2015.
« Dsü dixit : “Ignorans mandatum haud evadet vir principalis.
Ignorans ritus haud ad consistendum.
Ignorans verba haud ad noscendum homines”. »
Confucius. Werke des chinesischen Weisen Khung-Fu-Dsü und seiner Schüler, t. II (Karya-karya sang bijak Tionghoa Khung-Fu-Dsü dan murid-muridnya, jil. II), terj. dari bahasa Tionghoa ke dalam bahasa Jerman dan Latin oleh Wilhelm Schott. Berlin : C. H. Jonas, 1832.
« Philosophus ait : “Qui non agnoscit Cæli providentiam, non habet unde fiat sapiens. Qui haud noscit ritus, non habet unde consistat. Qui non discernit sermones, non habet unde cognoscat homines”. »
Cursus litteraturæ sinicæ neo-missionariis accommodatus, t. II. Studium classicorum, terj. dari bahasa Tionghoa ke dalam bahasa Latin oleh Angelo Zottoli. Shanghai : Missionis catholicæ, 1879.
« Sang bijak berkata : “Ia yang tidak mengakui dan tidak membedakan perintah Langit tidak dapat menjadi manusia mulia. Ia yang tidak mengenal adat-istiadat tak akan bertahan. Ia yang tidak memahami makna yang tepat dari kata-kata tidak dapat memahami orang”. »
Leslie, Donald Daniel. Confucius (Konfusius), diikuti kajian tentang Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius), terj. tidak langsung dari bahasa Ibrani oleh Zacharie Mayani, berdasarkan terj. Donald Daniel Leslie. Paris : Seghers, koleksi « Philosophes de tous les temps », 1962.
Unduhan
Rekaman suara
- Anne Cheng tentang Konfusius. (France Culture • France Inter).
- Brigitte Boudon tentang Konfusius. (Éditions Ancrages).
- Cyrille Javary tentang Konfusius. (Radio France Internationale (RFI)).
- Pembacaan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh ~Cocotte dan ~Iamnot, dalam terjemahan Séraphin Couvreur. (Littérature audio).
- Pembacaan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh ~RikudoSensei, dalam terjemahan Pierre Ryckmans. (YouTube).
- Pembacaan sebagian Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Fabienne Prost, dalam terjemahan Séraphin Couvreur, direvisi oleh Muriel Baryosher-Chemouny. (YouTube).
- Pembacaan sebagian Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Michaël Lonsdale, dalam terjemahan Séraphin Couvreur, direvisi oleh Muriel Baryosher-Chemouny. (YouTube).
- Pembacaan sebagian Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Robin Renucci, dalam terjemahan Séraphin Couvreur, direvisi oleh Muriel Baryosher-Chemouny. (YouTube).
- René Étiemble, Anne Cheng dan Charles Le Blanc tentang Konfusius. (France Culture).
- Sami Tchak tentang Konfusius. (Radio France Internationale (RFI)).
- Étienne Balazs tentang Konfusius. (France Culture).
Karya cetak
- Manuskrip terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François Bernier, berdasarkan terjemahan Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687). (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Manuskrip terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François Bernier, berdasarkan terjemahan Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1688). (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (18…). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (18…), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1841). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1841), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1841), salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1841), salinan 3. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1841), salinan 4. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1841), salinan 5. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1845). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1845), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1846). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1846), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1846), salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1852). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1852), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1852), salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1852), salinan 3. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1858). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1858), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1858), salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1858), salinan 3. (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1862). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1862), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1868). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1868), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1874). (Google Livres).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Guillaume Pauthier (1921). (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Séraphin Couvreur (ed. elektronik). (Chine ancienne).
- Terjemahan Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Séraphin Couvreur (ed. elektronik bis). (Wikisource).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. I. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. I, salinan. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. I, salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. I, salinan 3. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. I, salinan 4. (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. II. (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. II, salinan. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. II, salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. II, salinan 3. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. II, salinan 4. (Google Livres).
- Terjemahan tidak langsung Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François-André-Adrien Pluquet, berdasarkan terjemahan François Noël (1784-1785), jil. II, salinan 5. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François Noël (1711). (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François Noël (1711), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François Noël (1711), salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh François Noël (1711), salinan 3. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687). (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 3. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 4. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 5. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 6. (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 7. (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 8. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 9. (American Libraries).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 10. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 11. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 12. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 13. (American Libraries).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 14. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 15. (Google Livres).
- Terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Prospero Intorcetta, Christian Herdtrich, François de Rougemont dan Philippe Couplet (1687), salinan 16. (Google Livres).
- Terjemahan Jerman dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Wilhelm Schott (1832). (Google Livres).
- Terjemahan Jerman dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Wilhelm Schott (1832), salinan. (Google Livres).
- Terjemahan Jerman dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Wilhelm Schott (1832), salinan 2. (Google Livres).
- Terjemahan Jerman dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Wilhelm Schott (1832), salinan 3. (Google Livres).
- Terjemahan Jerman dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Wilhelm Schott (1832), salinan 4. (Google Livres).
- Terjemahan Jerman dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Wilhelm Schott (1832), salinan 5. (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Angelo Zottoli (1879). (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Angelo Zottoli (1879), salinan. (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Angelo Zottoli (1879), salinan 2. (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Angelo Zottoli (1879), salinan 3. (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Angelo Zottoli (1879), salinan 4. (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Prancis dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Séraphin Couvreur (1895). (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Prancis dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Séraphin Couvreur (1895), salinan. (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Prancis dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Séraphin Couvreur (1910). (Google Livres).
- Edisi dan terjemahan Prancis dan Latin Les Entretiens de Confucius (Analek Konfusius) oleh Séraphin Couvreur (1910), salinan. (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
Bibliografi
- Assaf, Antoine-Joseph. Confucius à la plage : la sagesse dans un transat (Konfusius di pantai : kebijaksanaan dalam kursi malas). Malakoff : Dunod, koleksi « À la plage », 2023.
- Cheng, Anne. Histoire de la pensée chinoise (Sejarah Pemikiran Tionghoa). Paris : Éditions du Seuil, 1997.
- Desroches, Jean-Paul dan Delacour, Catherine (ed.). Confucius : à l’aube de l’humanisme chinois (Konfusius : pada fajar humanisme Tionghoa) [katalog pameran, Paris, Musée national des arts asiatiques-Guimet]. Paris : Réunion des musées nationaux, 2003.
- Granet, Marcel. La Pensée chinoise (Pemikiran Tionghoa), kata pengantar oleh Henri Berr. Paris : A. Michel, koleksi « L’Évolution de l’humanité », 1950. (Bibliothèque nationale de France (BnF)).
- Javary, Cyrille. Sagesse de Confucius : valeurs, propositions et aphorismes pour grandir (Kebijaksanaan Konfusius : nilai-nilai, proposisi dan aforisme untuk bertumbuh). Paris : Eyrolles, koleksi « Eyrolles pratique : spiritualité », 2016.
- Labrune, Jean de. La Morale de Confucius, philosophe de la Chine (Moral Konfusius, filsuf Tiongkok), Amsterdam : P. Savouret, 1688 ; cet. ulang (diikuti oleh Lettre sur la morale de Confucius (Surat tentang moral Konfusius) oleh Simon Foucher), Paris : E. Legrand ; Fontenay-le-Comte : Gaudin fils, 1844. (Google Livres).
